Selfie, Groufie, dan Dronie

Malratuindah.co.id – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi ini mempunyai andil yang besar terhadap fenomena sosial di masyarakat. Salah satu dampaknya adalah trend Selfie. Kita sering melihat fenomena selfi tersebut. Fenomena dan realitas selfi bisa juga dimaknai sebagai “selfishly” ataupun dianalisa menggunakan ilmu psikologi, jurnalisme, fotografi dan komunikasi massa dan media. Selfi juga diartikan sebagai self image.

Fenomena selfie di media sosial setidaknya merupakan nilai aktualisasi dan eksistensi diri. Buah dari narsisisme. Semakin eksis, semakin narsis. Selfie merupakan jenis pemotretan yang diambil oleh diri sendiri dengan menggunakan kamera digital atau kamera telefon. Istilah Selfie ini mulai digunakan pada tahun 2002 dalam sebuah forum Internet Australia (ABC Online) pada tanggal 13 September 2002.

Aktivitas mengambil foto sendiri ini sebenarnya sudah dilakukan sejak munculnya kamera box kodak Brownoe pada tahun 1900. Kegiatan memotret diri sendiri ini pada awalnya dilakukan melalui cermin. Putri kekaisaran Rusia, Anastasia Nikolaevna merupakan remaja yang diketahui pertama kali mengambil foto dirinya sendiri melalui bantuan cermin untuk dikirim kepada temannya pada tahun 1914.

Seperti diketahui, pada tahun 2013 kemarin, kata selfie ini secara resmi tercantum dalam Oxford English Dictionary versi daring, pada bulan November 2013 lalu. Oxford Dictionary menobatkan kata ini sebagai Word of the year tahun 2013, dan menyatakan kata ini berasal dari Australia.

Jika Selfie berarti “Self Fotogaphy”, sekarang kata ini mengalami perkembangan. Banyak orang sekarang melakukan aktivitas selfie secara bersama dengan teman- temannya. Sehingga istilah selfie tidak lagi cocok untuk digunakan. Maka munculah istilah baru dengan sebutan “groufie“. Groufie merupakan singkatan dari group selfies. Jika selfie adalah memotret narsis diri sendiri, maka groufie adalah memotret narsis bersama grup atau sekelompok teman. Istilah inipun sekarang ini menjadi tren yang berkembang karena memiliki lebih banyak nilai sosial dibanding selfie yang hanya dilakukan sendiri untuk disebar di media sosial.

Selfie adalah sebuah fenomena, di mana seseorang memotret diri sendiri, dengan menampilkan wajah maupun seluruh tubuh. Foto selfie biasanya dilakukan dengan menggunakan smartphone atau webcam, yang kemudian di upload ke social media, seperti Facebook , Twitter, Instagram, Path, dan jejaring sosial lainnya. Karena kata ‘selfie’ begitu populer, Oxford menobatkan kata ini sebagai “Word of The Year” pada tahun 2013.

Sebenarnya selfie bukanlah hal baru. Foto Robert Cornelius pada tahun 1839 diyakini sebagai foto selfie pertama di dunia. Saat ini foto tersebut ditempatkan di Library of Congress, Washington. Bahkan sejak Facebook mulai digunakan, banyak ditemukan orang berfoto dengan pose “Duckface”, atau memonyongkan bibir agar terlihat seksi.

Dikutip dari BBC News, foto selfie berkaitan erat dengan self image. Sebagai contoh, daripada menulis status “hangout dulu”, akan lebih menarik jika foto yang di upload bukan? Dan ketika banyak “like” serta komentar yang mengenai foto tersebut tentu akan membuat Anda senang. Selain itu, fenomena ini terjadi karena pada dasarnya manusia suka mencoba identitas baru. Orang yang gemar berfoto selfie umumnya memiliki banyak sekali pose diri sendiri. Akan tetapi tidak semua foto yang diunggah ke media sosial. Mereka hanya memilih foto yang disukai atau bahkan foto yang dimanipulasi secara digital agar terlihat lebih bagus.

Sisi positif dari selfie yaitu adanya kesadaran seseorang untuk eksplorasi diri dan berbagi dengan dunia di sekitarnya.  Mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri, sehingga orang akan membagikan ‘sisi lain’ dari dirinya. Orang akan ‘menjaga’ agar setiap momen yang dilewati tidak hilang begitu saja. Selfie akan berdampak negatif bila seseorang kecanduan mengunggah fotonya di jejaring sosial, sehingga dapat mengurangi sosialisasi di dunia nyata. Selain itu, selfie seringkali dijadikan ajang untuk ‘pamer’, yang memicu seseorang melakukan hal yang sama saat melihat sebuah posting di dunia maya.

Fenomena selfie sebenarnya sudah biasa. Kalau mau dapat sesuatu yang beda, coba saja dronie. Hampir serupa dengan selfie, dronie adalah cara untuk memotret diri sendiri. Bedanya, bila selfie dilakukan dengan kamera depan di smartphone, dronie dilakukan dengan drone, alias pesawat tanpa awak yang digerakkan dengan remote control.

Selfie memang begitu mudah dan asyik dilakukan. Cukup ambil smartphone, aktifkan kamera depan, arahkan ke wajah, dan klik! Tak heran, ribuan foto selfie kini kerap menghiasi linimasa berbagai media sosial setiap harinya. Namun, Anda bisa merasakan keasyikan lebih saat mengambil gambar diri dengan drone. Memang, melakukan dronie tak semudah melakukan selfie. Anda mesti lihai mengendalikan drone dengan remote control, mengarahkan kameranya ke wajah Anda, kemudian ambil gambar.

Sumber : Wollipop, Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PGRpdiBzdHlsZT0id2lkdGg6IDEwMjBweDsiIGNsYXNzPSJ3cC12aWRlbyI+PCEtLVtpZiBsdCBJRSA5XT48c2NyaXB0PmRvY3VtZW50LmNyZWF0ZUVsZW1lbnQoJ3ZpZGVvJyk7PC9zY3JpcHQ+PCFbZW5kaWZdLS0+Cjx2aWRlbyBjbGFzcz0id3AtdmlkZW8tc2hvcnRjb2RlIiBpZD0idmlkZW8tNTgxLTEiIHdpZHRoPSIxMDIwIiBoZWlnaHQ9IjU3NCIgcHJlbG9hZD0ibWV0YWRhdGEiIGNvbnRyb2xzPSJjb250cm9scyI+PHNvdXJjZSB0eXBlPSJ2aWRlby9tcDQiIHNyYz0iaHR0cDovL21hbHJhdHVpbmRhaC5jby5pZC93cC1jb250ZW50L3VwbG9hZHMvMjAxOC8wMS9TZXF1ZW5jZS0wMi5tcDQ/Xz0xIiAvPjxhIGhyZWY9Imh0dHA6Ly9tYWxyYXR1aW5kYWguY28uaWQvd3AtY29udGVudC91cGxvYWRzLzIwMTgvMDEvU2VxdWVuY2UtMDIubXA0Ij5odHRwOi8vbWFscmF0dWluZGFoLmNvLmlkL3dwLWNvbnRlbnQvdXBsb2Fkcy8yMDE4LzAxL1NlcXVlbmNlLTAyLm1wNDwvYT48L3ZpZGVvPjwvZGl2Pg==
SUBSCRIBE TO NEWSLETTER
Turpis dis amet adipiscing hac montes odio ac velit? Porta, non rhoncus vut, vel, et adipiscing magna pulvinar adipiscing est adipiscing urna. Dignissim rhoncus scelerisque pulvinar?
[circular_countdown settings_id='1']